Untuk Sebuah Baju Bernama Negara

Rauf, Mahasiswa, halloabdul@yahoo.com  

Dalam sebuah perbincangan saya berkata pada seorang teman, “Untuk apa dipaksakan, “itu” ‘ kan bukan sesuatu yang terberi begitu saja. Kita mengadakannya cukup dengan membayangkannya”. Yang dimaksud “itu” adalah negara. Ucapan saya ini terlontar ketika saya bersama teman membicarakan apa yang terjadi belakangan dengan negara ini: setelah banjir, gempa, longsor, kecelakaan transportasi yang bertubi-tubi, korupsi yang makin menjadi, ketidakpastian hukum dan jaminan hidup, apalagi yang bisa diharapkan?.  Saya bermaksud menjelaskan persetujuan saya dengan suatu gagasan yang mengatakan kesadaran bernegara adalah sesuatu yang dibayangkan (imagined), meskipun pada kenyataannya gagasan ini menuai kritik yang tidak sedikit pula. Sementara teman saya bergagasan tentang apa yang seharusnya dilakukan supaya negara ini bisa lebih baik, saya condong pesimis. Apa yang dapat dilakukan dua orang mahasiswa yang salah satunya sering kesandung urusan biaya dan pengangguran ini? Urusan negara bukan saja perkara besar, bahkan nyaris taktersentuh. Saya pikir, saya cuma melihat sosok negara melalui televisi: sosok yang akhir-akhir ini renta, retak, kusut, terkadang lucu-menggelikan. Sementara itu, saya dan teman saya hanya bagian teramat kecil dari beratus juta mana yang nongkrong di depan televisi yang terhubung satu sama lain oleh satu kesadaran tentang sebuah identitas. Sebuah negara. Kadang-kadang saya juga merasa bertemu dengan negara dalam bentuk bukan bayangan_dalam pengertian kasat mata_ di kantor-kantor pemerintah ketika mengurus KTP dan masalah administrasi lainnya. Ketika itu saya kerapkali merasa duit saya yang segitu-gitunya dirampok utnuk sebuah KTP atau SKKB, misalnya.  Saya bilang pada teman saya, sepertinya tidak perlu memaksakan diri memakai baju yang sudah tambal sulam. Sudah bolong pula di bagian tengah tambalannya. Baju ini mestinya seibarat pemberian: kita boleh menerimanya jika suka dan memilihnya manasuka. Kalau sudah usang ganti saja dan cari baju baru yang lebih nyaman: nyaman untuk bersekolah, nyaman untuk bekerja, nyaman untuk berkeyakinan, nyaman untuk berkumpul dan berserikat, nyaman untuk berbicara dan nyaman untuk hal-hal lainnya. Tapi memang ini tak sesederhana perkara baju. Analogi ini bisa saja menyesatkan dan membingungkan. Tapi paling tidak untuk beberapa hal kita anggap pas saja untuk sebuah analogi yang memang tak pernah pas seratus persen dengan yang dianalogikan.  Memang tidak sederhana. Kita tidak bisa seenaknya saja mengganti kewarganegaraan. Paling tidak, meski diperbolehkan, bukan perkara mudah dan murah. Belum lagi nanti dicap tidak nasionalis. Warga negara yang murtad dan pembelot. Memang tidak mudah dan murah. Bayangkan, seorang anak hasil kawin campur baru diakui_ baru-baru ini_ kewarganegaraannya setelah tujuh tahun hanya diakui sebagai warga negara asing. Sang ibu, yang asli Indonesia, setiap bulan mesti mengeluarkan biaya yang tidak sedikit agar anaknya tidak disebut sebagai pendatang gelap.  Tulisan dan pikiran saya ini memang bernada pesimistis. Saya bahkan khawatir dikatakan subversiv karena ini. Saya hanya mencoba jujur terhadap perasaan dan pikiran saya, bahwa ini yang saya rasakan dan peroleh dari pengalaman dan kejadian akhir-akhir ini. Suatu kali saya disuruh oleh kakak saya untuk mengurus sertifikat tanah. Sebelum membayar pajak tanah sebesar tiga ratus ribu-an, saya harus melewati beberapa pos yang mematok harga administrasi paling murah sebesar limapuluh ribu rupiah. Saya tidak tahu dan merasa tidak sanggup membayangkan apakah orang-orang yang terkategorikan miskin masih mau dan mampu mengurus persoalan administratif ini. Pun untuk urusan lain sejenis: KTP, akte, SKKB dan lain-lain. Selain harus melewati beberapa ‘eselon’, biaya administrasi selalu menunggu. Ini soal korupsi yang sudah makin mengakar dan_katanya_ membudaya. Di awal saya tulis bahwa terkadang ada hal yang lucu dan menggelikan: ketika sedang mengurus pembuatan SKKB di sebuah kantor polisi saya memperoleh sambutan berupa penawaran oleh seseorang berseragam polisi_tentu saja bukan polisi melainkan oknum_ untuk jasa pembuatan surat izin mengemudi jalur “khusus”. Tidak jauh dari tempatnya berdiri trebentang sebuah spanduk berisi anjuran_kenapa bukan larangan?_ untuk tidak menggunakan calo. Tidak cukup lucu? Barangkali masih ada dagelan yang lebih dahsyat dari ini.  Sekarang soal pendidikan. Sebuah forum untuk transparansi biaya pendidikan menemukan bahwa dari anggaran untuk pendidikan RAPBN 2007 sebesar 51,3 triliun, Cuma 7,5 triliun yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan seperti rehabilitasi bangunan dan beasiswa. Sisanya habis dipakai urusan birokrasi.  Tentang hukum ceritanya tidak jauh berbeda. Kerapkali perlakuan hukum tidak sama: beberapa pejabat terpidana masih enggan untuk dikirim bergabung dengan rekan “seprofesinya” di Cipinang. Mereka lebih memilih ditahan di penjara kantor polisi atau tempat lain yang nyaman. Selanjutnya banjir. Saya paham ini takdir Tuhan. Tapi berat untuk mengatakan dan sependapat bahwa ini adalah bencana alam. Ini bencana buah dari kerakusan manusia yang terus menggerus keseimbangan alam, mengganti taman-taman dengan mal-mal komersil dan memicu konsumerisme, membabat daerah resapan air untuk pemukiman-pemukiman elit. Dan kita pun menuai hasil: rekor bajir terbesar lima tahun lalu kita pecahkan sendiri dengan banjir yang lebih besar.  Sekarang giliran transportasi. Kecelakaan mobil, kereta api, kapal laut dan pesawat bertubi-tubi menimpa negeri ini. Dan lagi-lagi takdir pun dikambinghitamkan. Atau paling banter dikatakan sebagai akibat human-error, tanpa pernah diketahui dan dipersoalkan siapa orang yang telah mengalami error ini dan apa penyelesaiannya.  Mungkin benar kita ini sedang diuji. Atau negara dan kebernegaraan kita sedang diuji. Untuk beberapa kali ujian, berkali-kali kita gagal dan tidak “naik kelas”. Beberapa ujian lain entah lulus atau tidak. Ini memang bukan ujian sepertu ujian akhir nasional meskipun demikian tetap saja perlu target waktu. Persoalan meluapnya lumpur Lapindo hingga waktu yang ditargetkan masih belum memeroleh hasil yang berarti. Bahkan ditengarai ada gelagat cuci tangan dari pihak yang dianggap bertanggung jawab. Ujian dan masalah memang akan selalu di rentang zaman. Hanya saja ujian kali ini menghadirkan lebih banyak air mata, lebih banyak kehilangan, lebih banyak kesengasaraan. Dan biasanya, sesudah itu, akan datang lebih banyak kekecewaan, kemarahan dan kerusuhan. Kita benar-benar tambal sulam. Bahkan sudah berlubang di tengah tambalannya.  Karena inilah saya menjadi orang, atau salah seorang, yang merasa pesimis memandang kehidupan bernegara. Saya jadi membayangkan negara sebagai sesuatu yang ringkih. Meski demikian tetap kepikiran juga bagaimana kiranya jalinan rumit lalui lintas dan jalan bisa terbentuk tanpa sebuah negara. Alternatif apa selain negara yang bisa mempertemukan kita dengan keragaman sosial yang begitu kaya dan penuh potensi. Barangkali sebagai wujud eksistensi kita sebagai makhluk sosial (homo socius), negara adalah suatu jalan, sebuah ruang dan wahana untuk membuktikan arogansi kita sebagai makhluk paling sempurna dan istimewa ketimbang makhluk dan spesies lain.  Barangkali tidak ringkih-ringkih amat. Dibalik bencana alam yang menimpa, kita masih memiliki kekayaan alam yang jauh lebih besar dibandingkan yang sudah rusak dan menunggu untuk dikelola dengan lebih baik. Di tengah maraknya korupsi, masih ada beberapa sekolah yang menerapkan aturan tegas dalam mencontek. Kita berharap sikap jujur ini akan menjadi bekal yang terus dibawa dan tak habis-habis dalam kepemimpinan mendatang. Setelah kecelakaan yang bertubi-tubi, kita menjadi cukup berpengalaman untuk lebih hati-hati dan semakin bijak memaknai hidup dan mati. Tapi tentu saja harapan dan optimisme ini tidak menjadikan kita naïf dan menutup mata terhadap kondisi negara dan bernegara yang sudah rapuh ini. Kita menjadi optimis dengan tetap jujur dan menjunjung keadilan untuk semua. Dengan begini, kita berharap bisa memeroleh bayangan dan sosok negara yang adil, ramah dan sejahtera: sebuah baju yang dengan bangga saya kenakan ke manapun saya pergi.**

One Response to “Untuk Sebuah Baju Bernama Negara”

  1. susan Says:

    hurufnya kekecilan uf… rada gedean dikit. jadi males bacanya. btw, kamu teh ngemeng apaan sich?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: