RELEVANSI DEMOKRASI BAGI UMAT ISLAM

January 19, 2008

Oleh : Rijaludin

Dukungan terhadap partai politik berasas Islam dan berbasis massa Islam mengalami stagnasi dan cenderung menurun. Hal ini merupakan hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada Jum’at (5/10) lalu. Sampai September lalu, parpol berlatar belakang Islam seperti Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Keadilan Sejahtera (PKS)  dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mencatatkan jumlah dukungan sebanyak 4 persen. Adapun Partai Amanat Nasional (PAN) hanya mencatat 3 persen dukungan saja.

Angka dukungan ini menurun drastis bila dibandingkan dengan hasil Pemilu 2004. PKB dan PAN pada Pemilu lalu masing-masing memperoleh 11 persen dan 6 persen suara. Sedangkan PPP dan PKS masing-masing memperoleh 8 persen dan 7 persen.Sebaliknya, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), Partai Golkar dan Partai Demokrat yang tidak berasas dan memiliki basis Islam, mencatatkan dukungan yang cenderung menguat. Sampai September lalu, PDI-P meraih dukungan 20 persen suara, Partai Golkar 17,5 persen dan Partai Demokrat 14 persen. Pada Pemilu 2004, perolehan suara PDI-P mencapai angka 18,5 persen suara. Sedangkan Partai Golkar dan Partai Demokrat masing-masing mencapai angka 22 persen dan 7 persen suara. A.

Alasan Penurunan SuaraHasil Survei LSI yang menunjukkan penurunan angka dukungan terhadap parpol berasas atau berbasis Islam ini, mengundang beberapa tanggapan. Salah satunya tanggapan dari Saiful Mujani, Direktur Eksekutif LSI. Mujani menyatakan, bahwa penurunan angka dukungan terhadap parpol Islam diakibatkan kekuatan politik umat Islam cenderung semakin sekuler. Meskipun orientasi masyarakat terhadap nilai politi Islam cukup signifikan, namun hanya sedikit dari mereka yang bergabung dalam organisasi atau gerakan Islam. Mujani menilai aktivis Islam telah gagal menerjemahkan nilai politik Islam dalam bentuk gerakan dan kekuatan elektoral, karena mereka tidak menguasai sumber keuangan yang tetap dimonopoli kelompok sekuler.

Sementara itu, Ketua Dewan Pimpinan Pusat PPP, Ahmad Muqowam menyatakan, bahwa survei ini telah menunjukkan dukungan terhadap parpol Islam relatif stagnan sejak Pemilu 1955 sampai sekarang. Muqowam mengakui, bahwa sejumlah parpol yang berasas Islam dan didukung massa Islam tidak menunjukkan ke-Islamannya dalam berpolitik, baik dalam kepartaian maupun kenegaraan. Sehingga banyak partai mengaku Islam, tetapi justeru menunjukkan sikap sekuler. B.

Relevansi Demokrasi Bagi Umat Islam Penurunan angka dukungan terhadap parpol Islam mungkin tak hanya diartikan sebuah ironi kekuatan suatu kelompok mayoritas, tapi juga bisa memunculkan sebuah pertanyaan, masih relevankah demokrasi bagi umat Islam. Pertanyaan ini bukan hal yang aneh, toh kenyataannya penerimaan umat Islam terhadap demokrasi sebagai suatu sistem politik masih banyak diperdebatkan. Kultur Islam telah kadung dipersepsi oleh banyak orang sangat tidak sehat bagi tumbuhnya demokrasi. Sehingga pilihan sistem politik bagi dunia Islam – menurut Fareed Zakaria, salah seorang pengamat politik Islam – bukanlah demokrasi.

Pernyataan ini berdasarkan berbagai fakta tentang gagalnya konsolidasi demokrasi di berbagai negara Muslim. Menurutnya, dalam beberapa kasus demokrasi malah menjadi instrumen bagi munculnya kekuasaan kaum fundamentalis agama dan perpecahan sosial yang berdarah-darah. Oleh karena itu, Fareed menwarkan sistem kekuasaan otokrat liberal sebagai suatu masa transisi sebelum masuk ke era demokratis.Pernyataan Fareed di atas dalam realitas umat Islam Indonesia, ternyata ada benarnya juga.

Dari suatu penelitian yang dilakukan atas kerjasama Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Freedom Institute (FI), dan Jaringan Islam Liberal (JIL), dapat kita petakan suatu kondisi yang sangat rapuh bagi berjalannya atmosfer demokrasi. Dalam penelitian tersebut ada beberapa hal yang dianggap dapat menghambat keterbukaan dan kebebasan sebagai prasyarat demokrasi. Beberapa hal yang dianggap menghambat demokrasi itu di antaranya, 41,1% responden menolak presiden perempuan, 24,8% keberatan orang Kristen mengajar di sekolah negeri. Setuju atau tidak, boleh jadi itu hanya penilaian orang-orang yang merindukan demokrasi liberal.

Sementara itu ada ungkapan sederhana yang disampaikan oleh Barrington Moore, yaitu, “No bourgeois, No Democracy”. Ungkapan ini sekilas menggambarkan bahwa, demokrasi akan lahir dari borjuasi atau kapitalisme. Kapitalisme menjadi tempat tumbuhnya iklim demokrasi karena mengandaikan kehidupan masyarakat yang diwarnai dengan persaingan bebas, yang selanjutnya melahirkan kaum borjuis. Para borjuis ini menjadi pilar demokrasi seperti yang terjadi di AS dan Eropa. Dan ternyata masyarakat Islam tidak pernah mengenal sistem borjuasi ini.

Akhirnya, karena sulitnya mendefinisikan demokrasi membuat Fareed Zakaria hanya mengartikannya sebagai good government. Demokrasi tak hanya digambarkan dengan Pemilu yang kenyataannya hanya melahirkan para pemimpin korup dan zalim. Demokrasi hanya lahir dari pemerintahan yang baik. Dan Islam memiliki konsep demokrasi sendiri, berbeda dengan Barat dan dunia lain. C.

Penutup

Menjelang Pemilu 2009 nanti, umat Islam Indonesia harus lebih melek kembali. Banyak sekali para pemimpin parpol atau ormas Islam hanya menjadikan Islam dengan segala atributnya sebagai komoditi politik semata. Bukankah kita diingatkan untuk tidak menjual-belikan atau menukar nilai-nilai Islam dengan apa pun (istira` tsaman qalil). Dan bagi para pemimpin umat yang masih istiqamah dengan nilai-nilai Islam, sepertinya harus menjaga jarak dengan ranah politik yang mulai semrawut seperti sekarang ini. Wallahu a’lam bis-shawab.

Demam busway di Indonesia

January 19, 2008

Bagi seluruh warga Jakarta, pasti sudah kenal dengan transportasi umum yang satu ini, harganya murah, shelter bus ada dimana – mana dan yang penting, bebas dari kemacetan.Pertama kali busway di perkenalkan pada 2004 lalu oleh gubernur DKI Sutiyoso kala itu, seiring dengan respon warga Jakarta yang antusias terhadap transportasi ini, maka dibangun koridor – koridor busway mulai dari blok m sampai dengan pondok indah baru – baru ini.

Tak sedikit pula dana yang dikeluarkan oleh pemprov DKI mencapai 1.3 Triliun untuk proyek ini, namun hingga saat ini masalah lama itu belum juga terpecahkan, ada beberapa permasalahan pembangunan busway yang malah memperparah kemacetan di Jakarta yaitu :

1.    Pembangunan koridor memakan separuh badan jalan

2.    Pengerjaan proyek membutuhkan waktu lama sehingga menggangu kenyamanan pengguna jalan

3.    Para bikers terkadang nekat melalui jalur busway.

 Selain 3 hal tersebut, ditambah pula dengan padamnya listrik beberapa waktu lalu yang sempat menghentikan operasi busway.Kini, beberapa kota besar pun mengikuti, seperti Bogor dengan trans pakuan, Bandung dengan trans metro bahkan jogja baru akan menyusul dengan nama trans jogja.

Seperti pepatah lama “guru kencing berdiri murid kencing berlari”, Jakarta membangun busway, Bogor, Bandung, Jogja pun mengikuti. Seperti tidak ada habisnya, tetapi ini aneh bin ajaib, sudah tahu pak Sutiyoso salah mengapa diikuti oleh gubernur yang lain, salah kok ditiru.

Memang dari ketiga pengikut beliau, baru Bogor saja yang sudah beroperasi pada Januari 2007, itupun baru dipinggiran belum ke tengah kota.S

ekarang lihatlah kota Bandung, gubernur Jabar H. Danny Setiawan, mencanangkan pembangunan Trans Metro pada 2005 namun sampai sekarang proyek ini terbengkalai seiring dengan berbagai masalah lain yang menimpa kota ini.Nah, apakah dengan hadirnya Trans Jogja demam busway akan menggeliatkan kota Bandung ? Wallahu A’lam   

Indrayadi Soebekti/ XI – IS -1SMA Darul Hikam

SMS pun Kian Mencekik

January 19, 2008

Pernahkah kalian satu kali sedang asyik berkirim sms dengan teman, baru beberapa kali kirim, pulsa langsung kritis.        Ya, ini memang sudah menjadi gejala sehari – hari yang kita hadapi sebagai pengguna handphone, namun hal tersebut belakangan ini sedang dibahas pemerintah sebagai tindakan yang melanggar hukum, bagaimana tidak ? dewasa ini tarif sms antar operator berkisar Rp 100 – 350,- dan ini pun ditambah perang tarif yang tidak jelas rimbanya, padahal pemerintah menetapkan tarif sms minimal hanya Rp 76,- antar operator.  sebagai sampel, ambil telkomsel dengan tarif sms tertinggi Rp 350,- X 82 orang = Rp 28.700,- per hari, sementara kalau menurut standar Rp 76,- X 82 = Rp 6232,-.       Seperti yang dilansir KOMPAS beberapa waktu lalu bahwa kejadian ini ternyata telah berlangsung sejak 2003 lalu, yaitu sejak 30 % saham perusahaan selular terbesar indonesia dibeli oleh Singapura lewat PT Temasek Holdings Co. Pemerintah menemukan beberapa kejanggalan soal penetapan tarif sms oleh masing – masing operator yaitu :1.    Tarif tidak sesuai dengan standar2.    Terjadi praktik monopoli oleh salah satu operator terbesar yaitu telkomsel 3.    Penarikan keuntungan yang berlebih kepada konsumen 4.    Antara harga dan fasilitas tidak sebanding yang diterima konsumen  Terhitung sejak awal Desember lalu, pemerintah memberi sanksi kepada Telkomsel, Indosat dan Excelcomindo untuk menurunkan tarif sampai setengah dari tetapan pemerintah.       Dan yang mematuhinya adalah telkomsel dengan meluncurkan produk dengan tarif Rp 0,5 ,- per detik. Lho itu kan baru tarif percakapan, bagaimana dengan sms ? sejauh ini telkomsel masih mengunggulkan produk dengan tarif Rp 99,- per sms.       Lalu apakah ke depannya seluruh operator akan memangkas tarif sampai standar ? kemungkinan besar ya, sebab melihat operator selular di luar negeri, baik percakapan maupun sms sudah jauh lebih murah dibanding kita.  Indrayadi Soebekti

1 Muharam Ala PKS

January 19, 2008

Kamis 10/01.  

Dalam memperingati tahun baru islam  banyak cara yang dilakukan masyarakat kita seperti berdzikir di masjid, pawai kendaraan, upacara adat di daerah tertentu dan sebagainya tetapi para kader Partai Keadilan Sejahtera punya cara unik, yaitu melakukan akrabisasi para kader dan pelantikan 6 tim sukses PILKADA di beberapa perwakilan Rukun Wargi(RW) kota Bandung yang bertempat di GOR KONI Ahmad Yani.

Acara yang dimulai pukul 08:30 itu menghadirkan ketua DPD PKS Bpk Heru Suhandaru, Presiden PKS H. Tifatul Sembiring dan yang tak kalah penting cagub PKS Bpk Ahmad Heriawan juga ikut meramaikan acara tersebut, pembukaan dimulai dengan siraman rohani oleh Ketua DPD dilanjutkan dengan performance Tim Nasyid Shoutul Barokah yang tampil juga pada saat penutupan berlangsung.

Yang unik dari acara akrabisasi ini adalah pembacaan pantun dan pemutaran film yang berjudul realita kehidupan masyarakat Bandung , inti dari acara ini adalah membangun semangat Ukhuwah dan mensukseskan PILKADA 2008 yang digelar April mendatang.

Acara ditutup pukul 12:00 dengan pembacaan doa oleh anggota DPRD Bandung FPKS, pelantikan kader PKS dan performance tim Nasyid Shoutul Barokah.

Rijalludin

Jadi Environmentalist ? mudah kok

January 19, 2008

Sabtu (05/01)

Menjadi pemerhati lingkungan ternyata tak selalu orang yang sejalan dengan pendidikan formal, ini dibuktikan dalam pelatihan lingkungan yang digelar WALHI Jabar selama 2 hari yaitu tanggal 05-06 Januari.       

Tema pelatihan adalah menjadi environmentalist itu gampang, jadi mengenalkan kepada peserta kepada dasar – dasar environment, bentuk kegiatan dan efek seorang environment itu seperti apa ?

Pelatihan yang diikuti 13 mahasiswa dan seorang pelajar SMA itu nantinya akan dilibatkan berbagai misi yang berhubungan dengan lingkungan, salah satunya mengentaskan sampah kota Bandung. Seperti yang dipresentasikan salah satu peserta diatas.

Selain itu peserta akan dimasukkan ke sebuah komunitas nasional yang bernama Green Student Movement dengan kang Apip sebagai pembinanya, memang melihat animo mahasiswa lebih besar ketimbang pelajar, maka pembina menyarankan agar setiap pelajar yang ikut ini harus mengajak pelajar lain untuk dilatih dan nantinya akan membentuk sebuah komunitas.   

Rijaludin

LAUT MEMANAS DAN MELUAP

January 19, 2008

MEMAHAMI PEMANASAN GLOBAL DALAM PEMAHAMAN YANG KOMFEREHENSIF

= : واذاالبحار سجرت = التكوير

= : واذاالبحار فجرت = الانفطار

Tanggal 3-14 desember 2007 diselenggarakan Konferensi Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim ( UNFCCC) atau sering juga disebut dengan Conference of the Parties to the Convention (COP) ke-13 di Nusa Dua Bali, yang bertujuan untuk merumuskan “peta alur jalan” (road map) dalam mengantisipasi permasalahan perubahan iklim dan pemanasan global. Isu perubahan iklim dan pemanasan global ini kian menghangat ketika masyarakat dunia semakin sadar akan dampak dari kedua masalah besar tadi.

Naiknya suhu bumi telah mengakibatkan meluapnya air laut sampai rata-rata 15 cm hingga telah menenggelamkan sebagian pulau di samudera Pasifik, pencairan glacier dan bongkahan gunung es di Kutub Utara. Pemanasan global (global warming) ini pun telah meningkatkan frekuensi badai, topan dan banjir. Dan akibat dari musim yang tidak menentu menyebabkan para petani mengalami gagal panen.

Memperhatikan keprihatinan Abdul Mu’ti dalam tulisannya di sebuah media nasional tentang ‘dingin’nya para ulama dan umat Islam dalam menanggapi isu pemanasan global ini serta terkesan dikotomis dan terlalu text-oriented. Maka, penulis merasa tergerak untuk menceritakan isu pemanasan global ini dalam perspektif yang menggabungkan pemahaman text-oriented (Naqliyyah) dan pemahaman kontekstual.

a. Laut Memanas dan Meluap

Dua ayat di awal tulisan ini telah mengajak kita untuk menengok fenomena alam البحار (lautan) yang disandingkan dengan ungkapan سجرت (dipanaskan) dan فجرت (meluap).

Imam as-Suyuthi rohimahullah dalam kitab tafsirnya, ad-Durul Mantsur fit-Tafsiril Ma`tsur, telah mengutip beberapa penafsiran para sahabat dan tabi’in tentang dua ayat di atas. Ad-Dhahak dan al-Hasan menjelaskan ayat واذاالبحار سجرت dengan pernyataan: “Air laut meluap dan hilang meresap”. Ad-Dhahak menambahkan kata سجرت memiliki pengertian yang sama dengan kata فجرت . Sedangkan Ibnu Abbas ketika ditanya tentang ayat واذاالبحار سجرت oleh Nafi’ bin al-Azraq, Abbas menjelaskan bahwa air laut akan memanas hingga menjadi api, dan air laut akan meluap dan bercampur dengan air di daratan.

Dengan penjelasan yang agak panjang, Ubay bin Ka’ab menjelaskan: “Di saat menjelang kiamat Jin dan Manusia berlarian ke laut, tapi laut telah menjadi api yang menyala-nyala. Lalu bumi terbelah di antara mereka dan tiba-tiba datanglah angin yang menewaskan mereka semua.”Sedangkan untuk ayat واذاالبحار فجرت Ibnu Abbas memaparkan, bahwa air laut akan meluap dan bercampur antara yang satu dengan yang lainnya.

Dari beberapa penafsiran di atas dapat kita simpulkan, dua ayat tadi menjelaskan tentang ciri-ciri kiamat yang salah satunya digambarkan dengan air laut yang memanas, meluap ke darat, meresap dan hilang menguap. Namun, apakah gambaran ini mendekati fenomena pemanasan global?

b. Memahami Konteks Pemanasan Global

Fenomena pemanasan global sebenarnya adalah apa yang kita kenal sebagai efek rumah kaca secara berlebihan. Efek rumah kaca terjadi ketika sisa-sisa pembakaran berupa Karbondioksida (CO2), Dinitoksida (N2O), Metana (CH4), Sulfurheksafluorida (SF6), Perfluorkarbon (PFC5) dan Hidrofluoro karbon (HFC5) menyelimuti atmosfer sehingga radiasi matahari tidak seluruhnya dapat dipantulkan dan terperangkap di bumi. Efek rumah kaca diakibatkan oleh pembakaran gas kendaraan bermotor, penggunaan gas untuk memasak dan penggunaan bahan bakar fosil, seperti minyak dan batubara.

Di awal telah disebutkan beberapa hal yang ditimbulkan dari pemanasan global. Kengerian ini masih akan terus bertambah, seperti yang dilaporkan oleh majalah Time (edisi 1 Oktober 2007), bahwa lapisan es di Kutub Utara menyusut lebih dari 20 persen dalam 25 tahun terakhir dan akan terus terjadi sampai hanya menyisakan 20 persen lapisan es saja pada 2040. Saat itu Indonesia diperkirakan akan kehilangan 2000 pulaunya yang tenggelam.

Pertengahan November kemarin pun warga Jakarta dikejutkan dengan meluapnya air laut hingga menyerupai fenomena banjir yang biasa terjadi.Masih banyak kejadian lain yang semakin mendekatkan kepada kita apa yang difirmankan ALLAH SWT dalam dua ayat di muka, “Laut Memanas dan Meluap”. Bukankah suatu yang sangat cocok antara penjelasan tekstual dan kontekstual?

c. Pemahaman dan Pertobatan Secara Komferehensif (Kaffah)

Sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Abdul Mu’ti, mengajak para ulama dan seluruh umat manusia untuk melakukan langkah bersama dalam mengantisipasi fenomena pemanasan global ini tanpa terjebak pada pemahaman yang dikotomi, membedakan antara urusan dunia dan urusan akhirat, serta tidak memilah-milah antara pemahaman tekstual dan kontekstual, toh kedua pemahaman ini bisa sinkron.  

Selanjutnya, tak cukup dengan hanya menyerahkannya kepada takdir ALLAH SWT, karena segala kerusakan yang ada di bumi ini merupakan akibat ulah manusia itu sendiri, jadi selagi kita dapat memperbaikinya atau setidaknya meminimalisir segala kerusakan masih mungkin kita merubahnya. ALLAH SWT berfirman := : ظهرالفسد فى البر والبحر بماكسبت ايدى الناس ليذيقهم بعض الذى عملوا لعلهم يرجعون = الروم “Tampaklah kerusakan di daratan dan di lautam dikarenakan perbuatan (buruk) tangan-tangan manusia, agar mereka merasakan sebagian dari apa-apa yang mereka perbuat dan agar mereka kembali.” (QS. Ar-Rum, 30 : 41)

Kembali Imam as-Suyuthi mengutip penafsiran Ibnu Abbas tentang ayat ini. Ibnu Abbas menyatakan tentang akan berkurangnya keberkahan karena amal buruk manusia dan mereka tidak bertaubat. Al-Hasan menambahkan bahwa ALLAH akan membinasakan manusia karena dosa-dosa dan perbuatan buruk mereka baik di daratan maupun di lautan.

Selaras dengan pernyataan di atas, Eep Saepulloh Fatah mengajak kita untuk melakukan pertaubatan bersama. Fatah menyebutkan tiga kesalahan dalam pengelolaan lingkungan, yaitu, pertama membiarkan pemanfaatan sumber daya alam terbarukan” melebihi laju regenerasinya. Misalnya, eksploitasi hutan yang tak terkontrol.

Kedua, penipisan “sumber daya tak terbarukan” tanpa dibarengi pengembangan substitusinya. Misalnya, eksploitasi bahan bakar fosil tanpa menyiapkan bahan bakar alternatif.

Ketiga, produksi limbah melebihi kemampuan asimilasi lingkungan. Kasus sampah di sekitar kita hampir tak pernah menemukan solusi.

Bila kita menggambarkan segala permasalahan lingkungan yang kita rasakan dan memikirkan solusinya, sepertinya sangat sulit untuk melakukannya. Tapi, bukankah Islam telah mengajari kita untuk tidak berbuat boros (tabdzir), sederhana dan menghargai ekosistem yang ada di sekitar kita. Segala kerusakan ini terjadi karena manusia menjadi serakah dan tidak memperhatikan lingkungannya. Marilah kita kembali melakukan introspeksi, tabat dan melakukan hal-hal strategis sebelum segalanya terlambat. Wallahu a’lam bisshawab.

Rijaludin

Tentang Blog

January 12, 2008

Rauf, mahasiswa, haloandul@yahoo.com 

Tidak perlu memaksakan diri sekolah jika ingin menjadi seorang blogger. setidaknya itu yang sudah dibuktikan oleh Widi, panggilan akrab dari widianto, salah sorang staf CCIT Unpad. 

Baru pada tahun 2002, widi berkenalan dengan yang namanya blog. saat itu ia mengaku merasa memeroleh ruang alternatif untuk menumpahkan dan berbagi pengalaman-pengalaman hidupnya di luar diary. saat itu widi memilih blogspot, salah satu provider yang menyediakan blog secara gratis, sebagai diary-nya yang baru.

Dari sana dia mulai mengutak-atik segala fitur yang disediakan blogspot hingga dirasa cukup tahu ”ruangan” ini. sembari berkunjung ke provider-provider lain, widi menemukan bahwa wordpress menyediakan fasilitas ruangan yang lebih nyaman, mudah  dan kompak, ketimbang blogspot yang pertama kali dikenalinya. ”Saya lihat beberapa themes yang lebih variatif dan banyak pilihannya di wordpress”. yang dimaksud themes di sini adalah sebentuk lay out atau reka bentuk blog. 

Rupanya perkenalan dan kegandrungannya dengan blog membawa keberuntungan tersendiri bagi widi. melalui seorang kenalannya yang bekerja di Unpad, widi ditawari untuk ikut membantu pengembangan teknologi informasi yang ada di Unpad. saat itu, Unpad membayangkan mahasiswanya bisa memiliki blog sendiri melalui situs unpad.ac.id. begitulah, sebelum sempat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, widi sudah menjadi bagian dari civitas akademik tanpa harus menjadi mahasiswa terlebih dahulu.

Meski begitu dia berencana kuliah dengan beasiswa dari Unpad. pengalaman menarik yang dialami oleh widi berkenaan blog adalah ketika salah satu informasi tentang sebuah manual bisa bernilai komersil . Selanjutnya, melalui blog, widi juga bisa menjual beberapa barang dengan promosi yang lebih murah dan efektif.  meski diakuinya hanya sebuah ketidaksengajaan, menjadikan blog komersil memerlukan pengelolaan yang khusus. misalnya, rubrik-rubrik haruslah yang paling disukai oleh pembaca, memberikan informasi yang eye-catching. dalam blognya, widi mengaku memuat beberapa rubrik sepereti perjalanan hidup, puisi, opini dan beberapa informasi yang masih uncategorized.

Meski begitu tetap menyarankan untuk tidak tergiur mengisi blog dengan informasi-informasi porno dan berbau SARA. ia pernah mendapati sebuah blog dari malaysia yang isinya menjelek-jelekkan indonesia. ” kita bisa cegah dengan mengajak rame-rame teman kita, untuk mengklik flagsnya”. flags yang dimaksud adalah berupa ikon yang bisa diklik jika kita tidak sepakat atau tersinggung dengan informasi yang disajikan. jika jumlah yang menekan ikon ini banyak, provider bisa menutup blog yang bersangkutan. 

Hm, rasanya tidak perlu takut susah berkenalan dengan blog. bagaimana?

Untuk Sebuah Baju Bernama Negara

January 12, 2008

Rauf, Mahasiswa, halloabdul@yahoo.com  

Dalam sebuah perbincangan saya berkata pada seorang teman, “Untuk apa dipaksakan, “itu” ‘ kan bukan sesuatu yang terberi begitu saja. Kita mengadakannya cukup dengan membayangkannya”. Yang dimaksud “itu” adalah negara. Ucapan saya ini terlontar ketika saya bersama teman membicarakan apa yang terjadi belakangan dengan negara ini: setelah banjir, gempa, longsor, kecelakaan transportasi yang bertubi-tubi, korupsi yang makin menjadi, ketidakpastian hukum dan jaminan hidup, apalagi yang bisa diharapkan?.  Saya bermaksud menjelaskan persetujuan saya dengan suatu gagasan yang mengatakan kesadaran bernegara adalah sesuatu yang dibayangkan (imagined), meskipun pada kenyataannya gagasan ini menuai kritik yang tidak sedikit pula. Sementara teman saya bergagasan tentang apa yang seharusnya dilakukan supaya negara ini bisa lebih baik, saya condong pesimis. Apa yang dapat dilakukan dua orang mahasiswa yang salah satunya sering kesandung urusan biaya dan pengangguran ini? Urusan negara bukan saja perkara besar, bahkan nyaris taktersentuh. Saya pikir, saya cuma melihat sosok negara melalui televisi: sosok yang akhir-akhir ini renta, retak, kusut, terkadang lucu-menggelikan. Sementara itu, saya dan teman saya hanya bagian teramat kecil dari beratus juta mana yang nongkrong di depan televisi yang terhubung satu sama lain oleh satu kesadaran tentang sebuah identitas. Sebuah negara. Kadang-kadang saya juga merasa bertemu dengan negara dalam bentuk bukan bayangan_dalam pengertian kasat mata_ di kantor-kantor pemerintah ketika mengurus KTP dan masalah administrasi lainnya. Ketika itu saya kerapkali merasa duit saya yang segitu-gitunya dirampok utnuk sebuah KTP atau SKKB, misalnya.  Saya bilang pada teman saya, sepertinya tidak perlu memaksakan diri memakai baju yang sudah tambal sulam. Sudah bolong pula di bagian tengah tambalannya. Baju ini mestinya seibarat pemberian: kita boleh menerimanya jika suka dan memilihnya manasuka. Kalau sudah usang ganti saja dan cari baju baru yang lebih nyaman: nyaman untuk bersekolah, nyaman untuk bekerja, nyaman untuk berkeyakinan, nyaman untuk berkumpul dan berserikat, nyaman untuk berbicara dan nyaman untuk hal-hal lainnya. Tapi memang ini tak sesederhana perkara baju. Analogi ini bisa saja menyesatkan dan membingungkan. Tapi paling tidak untuk beberapa hal kita anggap pas saja untuk sebuah analogi yang memang tak pernah pas seratus persen dengan yang dianalogikan.  Memang tidak sederhana. Kita tidak bisa seenaknya saja mengganti kewarganegaraan. Paling tidak, meski diperbolehkan, bukan perkara mudah dan murah. Belum lagi nanti dicap tidak nasionalis. Warga negara yang murtad dan pembelot. Memang tidak mudah dan murah. Bayangkan, seorang anak hasil kawin campur baru diakui_ baru-baru ini_ kewarganegaraannya setelah tujuh tahun hanya diakui sebagai warga negara asing. Sang ibu, yang asli Indonesia, setiap bulan mesti mengeluarkan biaya yang tidak sedikit agar anaknya tidak disebut sebagai pendatang gelap.  Tulisan dan pikiran saya ini memang bernada pesimistis. Saya bahkan khawatir dikatakan subversiv karena ini. Saya hanya mencoba jujur terhadap perasaan dan pikiran saya, bahwa ini yang saya rasakan dan peroleh dari pengalaman dan kejadian akhir-akhir ini. Suatu kali saya disuruh oleh kakak saya untuk mengurus sertifikat tanah. Sebelum membayar pajak tanah sebesar tiga ratus ribu-an, saya harus melewati beberapa pos yang mematok harga administrasi paling murah sebesar limapuluh ribu rupiah. Saya tidak tahu dan merasa tidak sanggup membayangkan apakah orang-orang yang terkategorikan miskin masih mau dan mampu mengurus persoalan administratif ini. Pun untuk urusan lain sejenis: KTP, akte, SKKB dan lain-lain. Selain harus melewati beberapa ‘eselon’, biaya administrasi selalu menunggu. Ini soal korupsi yang sudah makin mengakar dan_katanya_ membudaya. Di awal saya tulis bahwa terkadang ada hal yang lucu dan menggelikan: ketika sedang mengurus pembuatan SKKB di sebuah kantor polisi saya memperoleh sambutan berupa penawaran oleh seseorang berseragam polisi_tentu saja bukan polisi melainkan oknum_ untuk jasa pembuatan surat izin mengemudi jalur “khusus”. Tidak jauh dari tempatnya berdiri trebentang sebuah spanduk berisi anjuran_kenapa bukan larangan?_ untuk tidak menggunakan calo. Tidak cukup lucu? Barangkali masih ada dagelan yang lebih dahsyat dari ini.  Sekarang soal pendidikan. Sebuah forum untuk transparansi biaya pendidikan menemukan bahwa dari anggaran untuk pendidikan RAPBN 2007 sebesar 51,3 triliun, Cuma 7,5 triliun yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan seperti rehabilitasi bangunan dan beasiswa. Sisanya habis dipakai urusan birokrasi.  Tentang hukum ceritanya tidak jauh berbeda. Kerapkali perlakuan hukum tidak sama: beberapa pejabat terpidana masih enggan untuk dikirim bergabung dengan rekan “seprofesinya” di Cipinang. Mereka lebih memilih ditahan di penjara kantor polisi atau tempat lain yang nyaman. Selanjutnya banjir. Saya paham ini takdir Tuhan. Tapi berat untuk mengatakan dan sependapat bahwa ini adalah bencana alam. Ini bencana buah dari kerakusan manusia yang terus menggerus keseimbangan alam, mengganti taman-taman dengan mal-mal komersil dan memicu konsumerisme, membabat daerah resapan air untuk pemukiman-pemukiman elit. Dan kita pun menuai hasil: rekor bajir terbesar lima tahun lalu kita pecahkan sendiri dengan banjir yang lebih besar.  Sekarang giliran transportasi. Kecelakaan mobil, kereta api, kapal laut dan pesawat bertubi-tubi menimpa negeri ini. Dan lagi-lagi takdir pun dikambinghitamkan. Atau paling banter dikatakan sebagai akibat human-error, tanpa pernah diketahui dan dipersoalkan siapa orang yang telah mengalami error ini dan apa penyelesaiannya.  Mungkin benar kita ini sedang diuji. Atau negara dan kebernegaraan kita sedang diuji. Untuk beberapa kali ujian, berkali-kali kita gagal dan tidak “naik kelas”. Beberapa ujian lain entah lulus atau tidak. Ini memang bukan ujian sepertu ujian akhir nasional meskipun demikian tetap saja perlu target waktu. Persoalan meluapnya lumpur Lapindo hingga waktu yang ditargetkan masih belum memeroleh hasil yang berarti. Bahkan ditengarai ada gelagat cuci tangan dari pihak yang dianggap bertanggung jawab. Ujian dan masalah memang akan selalu di rentang zaman. Hanya saja ujian kali ini menghadirkan lebih banyak air mata, lebih banyak kehilangan, lebih banyak kesengasaraan. Dan biasanya, sesudah itu, akan datang lebih banyak kekecewaan, kemarahan dan kerusuhan. Kita benar-benar tambal sulam. Bahkan sudah berlubang di tengah tambalannya.  Karena inilah saya menjadi orang, atau salah seorang, yang merasa pesimis memandang kehidupan bernegara. Saya jadi membayangkan negara sebagai sesuatu yang ringkih. Meski demikian tetap kepikiran juga bagaimana kiranya jalinan rumit lalui lintas dan jalan bisa terbentuk tanpa sebuah negara. Alternatif apa selain negara yang bisa mempertemukan kita dengan keragaman sosial yang begitu kaya dan penuh potensi. Barangkali sebagai wujud eksistensi kita sebagai makhluk sosial (homo socius), negara adalah suatu jalan, sebuah ruang dan wahana untuk membuktikan arogansi kita sebagai makhluk paling sempurna dan istimewa ketimbang makhluk dan spesies lain.  Barangkali tidak ringkih-ringkih amat. Dibalik bencana alam yang menimpa, kita masih memiliki kekayaan alam yang jauh lebih besar dibandingkan yang sudah rusak dan menunggu untuk dikelola dengan lebih baik. Di tengah maraknya korupsi, masih ada beberapa sekolah yang menerapkan aturan tegas dalam mencontek. Kita berharap sikap jujur ini akan menjadi bekal yang terus dibawa dan tak habis-habis dalam kepemimpinan mendatang. Setelah kecelakaan yang bertubi-tubi, kita menjadi cukup berpengalaman untuk lebih hati-hati dan semakin bijak memaknai hidup dan mati. Tapi tentu saja harapan dan optimisme ini tidak menjadikan kita naïf dan menutup mata terhadap kondisi negara dan bernegara yang sudah rapuh ini. Kita menjadi optimis dengan tetap jujur dan menjunjung keadilan untuk semua. Dengan begini, kita berharap bisa memeroleh bayangan dan sosok negara yang adil, ramah dan sejahtera: sebuah baju yang dengan bangga saya kenakan ke manapun saya pergi.**

Kelinci Dengan Berbagai Manfaat

January 12, 2008

Boleh dibilang, ini adalah salah satu makhluk yang diciptakan tuhan, jinak dan bulunyahalus. Kelinci namanya. Kelinci memiliki banyak manfaat seperti dagingnya yang empuk dan lezat. Menurut penelitian para ahli, selain empuk dan rendah kolesterol, dagingnya dapat dijadikan obat dan dimasak dalam beranekaragam cara, yang terkenal sekarang tentunya sate kelinci.

Daging kelinci dipercaya dapat digunakan sebagai obat yang mampu menyembuhkan atau minimal meredakan penyakit asma, infeksi tenggorokan, liver, dan asam urat. Daging kelinci ternyata mengandung suatu zat yang disebut senyawa kitotefin. Senyawa tersebut apabila digabungkan dengan senyawa lain seperti lemak omega 3 dan 9 disinyalir bisa sebagai penyembuh asma.

Senyawa kitotefin berfungsi untuk menstabilkan membran sel mastosit. Daging yang mengadung senyawa tersebut yaitu daging kelinci membentuk antibodi pada tubuh. Antibodi ini melekat pada sel mastosit yang bisa mencegah pecahnya membran. Pecahnya membran bisa membuat otot-otot polos saluran nafas berkontraksi. Hasilnya saluran nafas menyempit hingga terjadi asma.

Daging kelinci adalah pengobatan jangka panjang, maka dari itu disarankan untuk mengkonsumsinya secara rutin. Jangan dikhawatirkan halal atau tidaknya, karena Majelis Ulama Indonesia menetapkan hukum makan kelinci dengan pertimbangan surat permintaan direktur urusan agama Islam Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dan Urusan Haji Departemen Agama RI dan surat Sekretaris Direktur Jenderal Peternakan Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian RI. Memakan daging kelinci hukumnya halal.

Selain daging, kotoran kelinci pun dapat dimanfaatkan sebagai pupuk dan biogas. Kotoran kelinci mengandung natrium yang tinggi dibanding kotoran hewan lainnya, sehingga sangat bagus sebagai pupuk organik bagi bunga-bunga dan buah-buahan. Air seni kelinci juga dapat digunakan sebagai penyubur tanaman. Kotoran kelinci sudah diusulkan sebagai biogas, namun tidak banyak yang memanfaatkannya, karena produk utama kotoran kelinci adalah pupuk.

 Kelindi dari jenis bulu panjang seperti England Anggora dan Rex memberikan manfaat lain. Selain indah dipandang dan lembut, jenis ini memiliki bulu-bulu yang panjang, sehingga dapat dijadikan bahan wol. Bulu kelinci dapat juga dipakai sebagai bahan pakaian berbulu, jaket, selendang, tas, dompet, boneka dan sebagainya. Kulit bulu ini menggantikan peran hewan langka seperti anjing laut dan beruang. Pasar kulit bulu kelinci mencakup daratan Eropa, Rusia, Amerika dan Asia.

 Kelinci dapat juga dibudidayakan agar dapat diambil manfaatnya secara maksimal. Yang perlu diperhatikan dalam usaha ternak kelinci adalah persiapan lokasi yang sesuai, pembuatan kandang, penyediaan bibit dan penyediaan pakan. Dalam pemeliharaan perlu diperhatikan tempat atau kandangnya yang kering agar kelinci tidak mudah pilek, pengontrolan penyakit, perawatan dan pemberian pakan. Apabila kelinci tiak diurus dengan benar, dapat muncul penyakit bisul, kudis, eksim, penyakit telinga, kulit kepala, mata dan pilek.

Jadi jagalah kelinci dengan benar agar tidak terkena serangan penyakit. Dengan begitu hasil panen dapat berkualitas dan maksimal.

Kelinci sebagai hewan peliharaan pun mempunyai manfaat, salah satunya adalah tanggungjawab. Dengan memelihara kelinci, otomatis kita mendapatkan tugas yang harus dipertanggungjawabkan. Tugas-tugas seperti memberi pakan yang benar, membersihkan kelinci dan juga kandangnya.

Kelinci dapat juga menjadi teman yang dapat menghibur apalagi ketika stres. Sifat kelinci yang loyal pada sang majikan dan disiplin menjadi teman yang menyenangkan di rumah. Kelinci peliharaan pun dapat mengikuti berbagai kontes seperti balap lari, kontes foto maupun “kelinci idol” yang diselenggarakan di Bogor pada 22 April 2007 lalu. Tentu saja apabilan seluruh tanggung jawab dipenuhi dengan benar.

Arizani Belia Rizki

Selamat datang

December 15, 2007

Selamat datang di situs kami. Situs ini membawa kabar dari siapa saja, dan bisa diisi oleh siapa saja!